Kecerdasan buatan semakin mudah ditemukan dalam kegiatan kerja sehari-hari. AI digunakan untuk membuat ringkasan dokumen, menerjemahkan teks, mengolah data, membantu menulis kode, merancang presentasi, menjawab pertanyaan pelanggan, hingga memberikan rekomendasi berdasarkan informasi dalam jumlah besar.
Namun, kemampuan AI yang semakin tinggi tidak berarti manusia cukup menerima semua hasil yang diberikan mesin.
Pada 25 September 2026, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mendorong tenaga kerja agar tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menggunakan teknologi AI. Menurutnya, sejumlah pekerjaan rutin memang mulai dapat dibantu teknologi, tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan memahami dan menilai hasil analisis yang dihasilkan AI.
Pandangan tersebut menggambarkan salah satu perubahan penting dalam dunia kerja modern.
AI Bukan Sekadar Alat untuk Mempercepat Pekerjaan
Pada tahap awal, banyak orang menggunakan AI terutama untuk menghemat waktu.
Seseorang dapat meminta sistem AI membuat rangkuman dokumen panjang hanya dalam beberapa detik. Data yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dianalisis dapat diproses jauh lebih cepat.
Namun, kecepatan bukan berarti hasil selalu benar.
AI dapat memberikan informasi yang tidak lengkap, salah memahami konteks, atau menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi sebenarnya tidak akurat. Karena itu, kemampuan memeriksa kembali informasi akan menjadi semakin penting.
Dalam lingkungan kerja, kesalahan kecil dapat menghasilkan konsekuensi besar apabila hasil AI digunakan tanpa verifikasi.
Literasi Digital Tidak Lagi Cukup Hanya Bisa Menggunakan Aplikasi
Beberapa tahun lalu, seseorang dapat disebut memiliki kemampuan digital ketika mampu menggunakan komputer, email, spreadsheet, serta aplikasi kerja.
Definisi tersebut kini mulai berubah.
Pengguna digital juga perlu memahami bagaimana informasi online bekerja, bagaimana mengenali sumber yang dapat dipercaya, serta bagaimana menjaga keamanan akun.
Contohnya, seseorang yang menemukan tautan daftar dewapoker atau layanan digital lain dari mesin pencari seharusnya tidak langsung memasukkan informasi pribadi. Pengguna perlu memeriksa domain, keamanan halaman, serta konteks layanan yang dikunjungi.
Kemampuan melakukan pemeriksaan sederhana seperti ini merupakan bagian dari literasi digital modern.
Hal serupa berlaku ketika menggunakan AI. Pengguna perlu mengetahui kapan sebuah jawaban dapat digunakan langsung dan kapan diperlukan pengecekan tambahan.
Kemampuan Manusia Justru Menjadi Pembeda
Ketika pekerjaan rutin semakin mudah diotomatisasi, kemampuan yang sulit ditiru mesin memperoleh nilai lebih besar.
Berpikir kritis, memahami kondisi manusia, melakukan negosiasi, mengambil keputusan dalam situasi yang tidak pasti, kreativitas, serta komunikasi adalah beberapa kemampuan yang tetap penting.
AI dapat menyediakan sejumlah pilihan, tetapi manusia perlu menentukan pilihan mana yang sesuai dengan tujuan organisasi.
AI dapat menganalisis ribuan data pelanggan, tetapi manusia perlu memahami bagaimana keputusan berdasarkan data tersebut akan memengaruhi pelanggan secara nyata.
Dengan kata lain, teknologi mengubah jenis pekerjaan manusia, bukan sekadar menggantikan semua pekerjaan.
Keamanan Digital Juga Membutuhkan Penilaian Manusia
AI sekarang juga digunakan di sektor keamanan siber. Sistem dapat mendeteksi aktivitas tidak normal, mengidentifikasi pola serangan, dan membantu tim keamanan memeriksa ancaman dengan lebih cepat.
Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan konteks.
Aktivitas yang terlihat mencurigakan bagi mesin belum tentu merupakan serangan. Sebaliknya, aktivitas yang terlihat normal juga dapat digunakan oleh penyerang apabila mereka berhasil mendapatkan akses ke akun asli.
Pengguna individu menghadapi persoalan serupa.
Saat melakukan situs dewapoker maupun membuka akun pada platform lain, teknologi keamanan memang membantu menjaga koneksi. Namun, pengguna tetap perlu memastikan mereka tidak memasukkan password melalui halaman tiruan atau memberikan kode verifikasi kepada pihak lain.
Teknologi dapat memberikan perlindungan, tetapi keputusan pengguna masih memiliki pengaruh besar.
Perusahaan Perlu Mengajarkan Cara Menggunakan AI dengan Benar
Perusahaan yang ingin menerapkan AI sebaiknya tidak hanya membeli software kemudian meminta seluruh karyawan menggunakannya.
Pelatihan juga dibutuhkan.
Karyawan perlu memahami batasan AI, aturan mengenai informasi rahasia, risiko memasukkan data perusahaan ke layanan eksternal, serta prosedur memeriksa hasil yang dihasilkan sistem.
Setiap industri juga memiliki tingkat risiko yang berbeda.
Kesalahan AI pada ide desain mungkin cukup mudah diperbaiki. Kesalahan pada data keuangan, keamanan, kesehatan, atau keputusan penting perusahaan dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih serius.
Karena itu, manusia harus mengetahui kapan pekerjaan dapat diserahkan kepada otomatisasi dan kapan pengawasan lebih ketat diperlukan.
Masa Depan Kerja Adalah Kolaborasi Manusia dan Teknologi
Perkembangan AI kemungkinan akan terus mengubah berbagai profesi.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa jam dapat dilakukan dalam beberapa menit. Proses tertentu yang membutuhkan banyak orang mungkin dapat dijalankan oleh tim yang lebih kecil dengan bantuan teknologi.
Namun, kemampuan manusia untuk memahami konteks, menilai kualitas informasi, dan mengambil keputusan tetap menjadi faktor penting.
Pekerja yang hanya mengandalkan pekerjaan rutin mungkin menghadapi perubahan lebih besar. Sebaliknya, mereka yang mampu menggunakan AI sebagai alat sambil mempertahankan kemampuan analisis memiliki peluang untuk meningkatkan produktivitas.
Pesan terpenting dari perkembangan teknologi hari ini bukan bahwa manusia harus bersaing dengan AI.
Yang lebih penting adalah belajar menggunakan teknologi secara cerdas. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap perlu menentukan apakah hasil tersebut benar, aman, relevan, dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.